Perihal Orang Miskin yang Bahagia

Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 31 Januari 2010)

“AKU sudah resmi jadi orang miskin,” katanya, sambil memperlihatkan Kartu Tanda Miskin, yang baru diperolehnya dari kelurahan. “Lega rasanya, karena setelah bertahun-tahun hidup miskin, akhirnya mendapat pengakuan juga.”

Kartu Tanda Miskin itu masih bersih, licin, dan mengkilat karena di-laminating. Dengan perasaan bahagia ia menyimpan kartu itu di dom­petnya yang lecek dan kosong.

“Nanti, bila aku pingin berbelanja, aku tinggal menggeseknya.”

Diam-diam aku suka mengintip rumah orang mis­kin itu. Ia sering duduk melamun, sementara anak-anaknya yang dekil bermain riang me­nahan lapar. “Kelak, mereka pasti akan men­jadi orang miskin yang baik dan sukses,” gumamnya.

Suatu sore, aku melihat orang miskin itu me­nik­mati teh pahit bersama istrinya. Kudengar orang miskin itu berkata mesra, “Ceritakan ki­sah paling lucu dalam hidup kita….”

“Ialah ketika aku dan anak-anak begitu kelaparan, lalu menyembelihmu,” jawab istrinya.

Mereka pun tertawa.

Aku selalu iri menyaksikan kebahagiaan me­reka.

3.

Orang miskin itu dikenal ulet. Ia mau bekerja serabutan apa saja. Jadi tukang becak, kuli angkut, buruh bangunan, pemulung, tukang parkir. Pendeknya, siang malam ia membanting tulang, tapi alhamdulillah tetap miskin juga. “Barangkali aku memang run-temurun dikutuk jadi orang miskin,”ujarnya, tiap kali ingat ayahnya yang miskin, kakeknya yang miskin, juga simbah buyutnya yang miskin.

Ia pernah mendatangi dukun, berharap bisa mengubah garis buruk tangannya. “Kamu memang punya bakat jadi orang miskin,” kata dukun itu. “Mestinya kamu bersyukur, karena tidak setiap orang punya bakat miskin seperti kamu.”

Kudengar, sejak itulah, orang miskin itu berusaha konsisten miskin.

4.

Pernah, dengan malu-malu, ia berbisik pada­ku. “Kadang bosan juga aku jadi orang miskin. Aku pernah berniat memelihara tuyul atau babi ngepet. Aku pernah juga hendak jadi pelawak, agar sukses dan kaya,” katanya. “Kamu tahu kan, tak perlu lucu jadi pelawak. Cukup bermodal tampang bego dan mau dihina-hina.”

“Lalu kenapa kau tak jadi pelawak saja?”

Ia mendadak terlihat sedih, lalu bercerita, “Aku kenal orang miskin yang jadi pelawak. Ber­tahun-tahun ia jadi pelawak, tapi tak pernah ada yang tersenyum menyaksikannnya di panggung. Baru ketika ia mati, semua orang tertawa.”

5.

Orang miskin itu pernah kerja jadi badut. Kos­tumnya rombeng, dan menyedihkan. Setiap meng­hibur di acara ulang tahun, anak-anak yang menyaksikan atraksinya selalu menangis ketakutan.

“Barangkali kemiskinan memang bukan hi­buran yang menyenangkan buat anak-anak,” ujarnya membela diri, ketika akhirnya ia dipecat jadi badut.

Kadang-kadang, ketika merasa sedih dan la­par, orang miskin itu suka mengibur diri di depan kaca dengan gerakan-gerakan badut paling lucu yang tak pernah bisa membuatnya tertawa.

6.

Orang miskin itu akrab sekali dengan lapar. Se­tiap kali lapar berkunjung, orang miskin itu selalu mengajaknya berkelakar untuk sekadar me­lupakan penderitaan. Atau, seringkali, orang mis­kin itu mengajak lapar bermain teka-teki, untu­k menghibur diri. Ada satu teka-teki yang selalu diulang-ulang setiap kali lapar da­tang ber­tandang.

“Hiburan apa yang paling menyenangkan ke­tika lapar?” Dan orang miskin itu akan menja­wabnya sendiri, “Musik keroncongan.”

Dan lapar akan terpingkal-pingkal, sambil menggelitiki perutnya.

7.

Yang menyenangkan, orang miskin itu memang suka melucu. Ia kerap menceritakan kisah orang miskin yang sukses, kepadaku. “Aku punya kolega orang miskin yang aku kagumi,” katanya. “Dia merintis karier jadi pengemis untuk membesarkan empat anaknya. Sekarang satu anaknya di ITB, satu di UI, satu di UGM, dan satunya lagi di Undip.”

“Wah, hebat banget!” ujarku. “Semua kuliah, ya?”

“Tidak. Semua jadi pengemis di kampus itu.”

8.

Orang miskin itu sendiri punya tiga anak yang ma­sih kecil-kecil. Paling tua berumur 8 tahun, dan bungsunya belum genap 6 tahun. “Aku ingin mereka juga menjadi orang miskin yang baik dan benar sesuai ketentuan undang-undang. Setidaknya bisa mengamalkan kemiskinan me­reka secara adil dan beradab berdasarkan Pan­casila dan UUD 45,” begitu ia sering berkata, yang kedengaran seperti bercanda. “Itulah sebabnya aku tak ingin mereka jadi pengemis!”

Tapi, seringkali kuperhatikan ia begitu bahagia, ketika anak-anaknya memberinya recehan. Hasil dari mengemis.

9.

Pernah suatu malam kami nongkrong di wa­rung pinggir kali. Bila lagi punya uang hasil anak-anaknya mengemis, ia memang suka me­manjakan diri menikmati kopi. “Orang miskin per­lu juga sesekali nyantai, kan? Lagi pula, be­ginilah nikmatnya jadi orang miskin. Punya ba­nyak waktu buat leha-leha. Makanya, sekali-kali, cobalah jadi orang miskin,” ujarnya, sam­bil menepuk-nepuk pundakku. “Kalau kamu miskin, kamu akan punya cukup tabungan pen­de­ritaan, yang bisa digunakan untuk membia­yaimu sepanjang hidup. Kamu bakalan punya cadangan kesedihan yang melimpah. Jadi kamu nggak kaget kalau susah.” Kemudian pelan-pe­lan ia menyeruput kopinya penuh kenikmatan.

Saat-saat seperti itulah, diam-diam, aku suka mengamati wajahnya.

10.

Wajah orang miskin itu mengingatkanku pada wajah yang selalu muncul setiap kali aku berkaca. Dalam cermin itu kadang ia menggodaku dengan gaya badut paling lucu yang tak pernah membuatku tertawa. Bahkan, setiap kali ia meniru gerakanku, aku selalu pura-pura tak melihatnya.

Pernah, suatu malam, aku melihat bayangan orang miskin itu keluar dari dalam cermin, ber­jalan mondar-mandir, batuk-batuk kecil minta diperhatikan. Ketika aku terus diam saja, kulihat ia kembali masuk dengan wajah kecewa.

Sejak itu, bila aku berkaca, aku kerap melihat­nya tengah berusaha menyembunyikan isak ta­ngisnya.

11.

Ada saat-saat di mana kuperhatikan wajah orang miskin itu diliputi kesedihan. “Jangan sa­lah paham,” katanya. “Aku sedih bukan ka­rena aku miskin. Aku sedih karena banyak se­kali orang yang malu mengakui miskin. Banyak sekali orang bertambah miskin karena selalu berusaha agar tidak tampak miskin.”

Entah kenapa, saat itu mendadak aku merasa ki­kuk dengan penampilanku yang perlente. Se­jak itu pula aku jadi tak terlalu suka berkaca.

12.

Bila lagi sedih orang miskin itu suka datang ke pengajian. Tuhan memang bisa menjadi hiburan menyenangkan buat orang yang lagi kesusahan, katanya. Ia akan terkantuk-kantuk sepanjang ceramah, tapi langsung semangat begitu makanan dibagikan.

13.

Ada lagi satu cerita, yang suka diulangnya padaku:

Suatu malam ada seorang pencuri menyatroni rumah orang miskin. Mengetahui hal itu, si miskin segera sembunyi. Tapi pencuri itu memergoki dan membentaknya, “Kenapa kamu sembunyi?” Dengan ketakutan si orang miskin menjawab, “Aku malu, karena aku tak punya apa pun yang bisa kamu curi.”

Ia mendengar kisah itu dalam sebuah pengajian. “Kisah itu selalu membuatku punya alasan untuk bahagia jadi orang miskin,” begitu ia selalu mengakhiri cerita.

14.

Orang miskin itu pernah ditangkap polisi. Saat itu, di kampung memang terjadi beberapa kali pencurian, dan sudah sepatutnyalah orang miskin itu dicurigai. Ia diinterogasi dan digebugi. Dua hari kemudian baru dibebaskan. Kabarnya ia diberi uang agar tak menuntut. Berminggu-minggu wajahnya bonyok dan memar. “Beginilah enaknya jadi orang miskin,” katanya. “Di­tu­duh mencuri, dipukuli, dan dikasih duit!”

Sejak itu, setiap kali ada yang kecurian, orang miskin itu selalu mengakui kalau ia pelakunya. De­ngan harapan ia kembali dipukuli.

15.

Banyak orang berkerumun sore itu. “Ada yang mati,” kata seseorang. Kukira orang miskin itu te­was dipukuli. Ternyata bukan. “Itu perempuan yang kemarin baru melahirkan. Anaknya sudah selusin, suaminya minggat, dan ia merasa repot kalau mesti menghidupi satu jabang bayi lagi. Ma­kanya ia memilih membakar diri.”

Perempuan itu ditemukan mati gosong, sambil mendekap bayi yang disusuinya. Orang-orang yang mengangkat mayatnya bersumpah, kalau air susu perempuan itu masih menetes-netes dari putingnya.

16.

Sepertinya ini memang lagi musim orang mis­kin bunuh diri. Dua hari lalu, ada seorang ibu sengaja menabrakkan diri ke kereta api sambil menggendong dua anaknya. Ada lagi sekeluarga orang miskin yang kompak menenggak racun. Ada juga suami istri gantung diri karena bosan dililit hutang.

“Tak gampang memang jadi orang miskin,” ujar orang miskin itu. “Hanya orang miskin ga­dungan yang mau mati bunuh diri. Untunglah, sekarang saya sudah resmi jadi orang miskin,” ujarnya sembari menepuk-nepuk dompet di pantat teposnya, di mana Kartu Tanda Miskin itu dirawatnya. “Ini bukti kalau aku orang miskin sejati.”

17.

Orang miskin punya ponsel itu biasa. Hanya orang-orang miskin yang ketinggalan zaman sa­ja yang tak mau berponsel. Tapi aku tetap sa­ja kaget ketika orang miskin itu muncul di ru­mahku sambil menenteng telepon genggam.

“Orang yang sudah resmi miskin seperti aku, boleh dong bergaya!” katanya dengan gagah. Lalu ia sibuk memencet-mencet ponselnya, menelepon ke sana kemari dengan suara yang sengaja dikeras-keraskan, “Ya, hallo, apa kabar? Bagaimana bisnis kita? Halooo….”

Padahal ponsel itu tak ada pulsanya.

18.

Ia juga punya kartu nama sekarang. Di kartu na­ma itu bertengger dengan gagah namanya, tem­pat tinggal, dan jabatannya: Orang Miskin.

19.

Ia memang jadi kelihatan keren sebagai orang mis­kin. Ia suka keliling kampung, menenteng pon­sel, sambil bersiul entah lagu apa. “Sekarang anak-anakku tak perlu lagi repot-repot me­ngemis dengan tampang dimelas-melaskan,” ka­tanya. “Buat apa? Toh sekarang kami sudah nya­man jadi orang miskin. Tak sembarang orang bisa punya Kartu Tanda Miskin seperti ini.”

Ia mengajakku merayakan peresmian kemiskinannya. Dibawanya aku ke warung yang biasa dihutanginya. Semangkuk soto, ayam goreng, sam­bal terasi dan nasi—yang tambah sampai tiga kali—disantapnya dengan lahap. Sementa­ra aku hanya memandanginya.

“Terima kasih telah mau merayakan kemiskinanku,” katanya. “Karena aku telah benar-benar resmi jadi orang miskin, sudah sepantasnya kalau kamu yang membayar semuanya.”

Sambil bersiul ia segera pergi.

20.

Ketika tubuhnya digerogoti penyakit, dengan enteng orang miskin itu melenggang ke rumah sakit. Ia menyerahkan Kartu Tanda Miskin pada suster jaga. Karena banyak bangsal kosong, suster itu menyuruhnya menunggu di lorong. “Beginilah enaknya jadi orang miskin,” batinnya, “dapat fasilitas gratis tidur di lantai.” Dan orang miskin itu dibiarkan menunggu berhari-hari.

Setelah tanpa pernah diperiksa dokter, ia disuruh pulang. “Anda sudah sumbuh,” kata pe­rawat, lalu memberinya obat murahan.

Orang miskin itu pulang dengan riang. Kini tak akan pernah lagi takut pada sakit. Saat anak-anaknya tak pernah sakit, ia jadi kecewa. “Apa gunanya kita punya Kartu Tanda Miskin kalau kamu tak pernah sakit? Tak baik orang miskin selalu sehat.”

Mendengar itu, mata istrinya berkaca-kaca.

21.

Beruntung sekali orang miskin itu punya istri yang tabah, kata orang-orang. Kalau tidak, perempuan itu pasti sudah lama bunuh diri. Atau memilih jadi pelacur ketimbang terus hidup dengan orang miskin seperti itu.

Tak ada yang tahu, diam-diam perempuan itu sering menyelinap masuk ke rumahku. Sekadar untuk uang lima ribu.

22.

Suatu sore yang cerah, aku melihat orang mis­kin itu mengajak anak istrinya pergi berbelanja ke mal. Benar-benar keluarga miskin yang sa­kinah, batinku. Ia memborong apa saja sebanyak-banyaknya. Anak-anaknya terlihat begitu gembira.

“Akhirnya kita juga bisa seperti mereka,” bi­sik orang miskin itu pada istrinya, sambil me­nunjuk orang-orang yang sedang antre memba­yar dengan kartu kredit. Di kasir, orang mis­kin itu pun segera mengeluarkan Kartu Tan­da Miskin miliknya, “Ini kartu kredit saya.”

Tentu saja, petugas keamanan langsung mengusirnya.

23.

Ia tenang anak-anaknya tak bisa sekolah. “Buat apa mereka sekolah? Entar malah jadi kaya,” katanya. “Kalau mereka tetap miskin, malah banyak gunanya, kan? Biar ada yang terus berdesak-desakan dan saling injak setiap kali ada pembagian beras dan sumbangan. Biar ada yang terus bisa ditipu setiap menjelang pemilu. Kau tahu, itulah sebabnya, kenapa di negeri ini orang miskin terus dikembangbiakkan dan dibudidayakan.”

Aku diam mendengar omongan itu. Uang dalam amplop yang tadinya mau aku berikan, pelan-pelan kuselipkan kembali ke dalam saku.

24.

Takdir memang selalu punya cara yang tak terduga agar selalu tampak mengejutkan. Tanpa firasat apa-apa, orang miskin itu mendadak mati. Anak-anaknya hanya bengong memandangi mayatnya yang terbujur menyedihkan di ranjang. Sementara istrinya terus menangis, bukan karena sedih, tapi karena bingung mesti beli kain kafan, nisan, sampai harus bayar lunas kuburan.

Seharian perempuan itu pontang-panting cari utangan, tetapi tetap saja uangnya tak cukup buat biaya pemakaman. “Bagaimana, mau dikubur tidak?” Para pelayat yang sudah lama menunggu mulai menggerutu.

Karena merasa hanya bikin susah dan merepotkan, maka orang miskin itu pun memutuskan untuk hidup kembali.

25.

Sejak peristiwa itu, kuperhatikan, ia jadi sering murung. Mungkin karena banyak orang yang kini selalu mengolok-oloknya.

“Dasar orang miskin keparat,” begitu sering orang-orang mencibir bila ia lewat, “mau mati sa­ja pakai nipu.”

“Apa dikira kita nggak tahu, itu kan akal bulus biar dapat sumbangan.”

“Dasarnya dia emang suka menipu, kok! Ingat nggak, dulu ia sering keliling minta sumbangan, pura-pura buat bikin masjid. Padahal hasilnya ia tilep sendiri.”

“Kalian tahu, kenapa dia tak jadi mati? Kare­na neraka pun tak sudi menerima orang miskin kayak dia!”

Orang-orang pun tertawa ngakak.

26.

Nasib buruk kadang memang kurang ajar. Suatu hari, orang miskin itu berubah jadi anjing. Itulah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Anak istrinya yang kelaparan segera menyembelihnya. (*)

Jakarta-Singapura, 2009

Agus Noor, penulis naskah teater/monolog dan cerpenis. Tinggal di Jogja.

BUYA HAMKA

“Janganlah pandang hina musuhmu,
karena jika ia menghinamu,
itu ujian tersendiri bagimu..”(Syair Imam Syafi’i)

HAJI Abdul Malik Karim Amrullah atau bisa dikenal dengan Buya Hamka adalah ulama besar yang meninggalkan jejak kebaikan bagi umat dan bangsa ini. Semasa hidup, ulama kelahiran Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908, ini dikenal sebagai sosok ulama yang santun dalam bermuamalah, namun tegas dalam akidah. “Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak manapun,”demikian tegasnya ketika dilantik sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hamka salah seorang ulama yang mendapat gelar Doktor Honouris Causa dari Universitas Al-Azhar, Mesir, karena kiprah dakwahnya dalam membina umat. Ia dikenal dengan fatwanya ketika menjabat sebagai Ketua MUI, yang mengeluarkan fatwa haram bagi umat untuk Islam mengikuti “Perayaan Natal Bersama”. Ia juga yang menolak undangan untuk bertemu Paus, pemimpin Katholik dunia, ketika datang berkunjung ke Istana Negara pada masa Presiden Soeharto. Dengan tegas, Buya Hamka mengatakan perihal penolakannya bertemu Paus tersebut, “Bagaimana saya bisa bersilaturrahmi dengan beliau, sedangkan umat Islam dengan berbagai cara, bujukan dan rayuan, uang, beras, dimurtadkan oleh perintahnya?”

Demikian ketegasan Buya Hamka dalam soal akidah. Namun dalam bermuamalah, ia santun dan lembut, sikapnya mencerminkan pribadinya. Ia sosok pemaaf, tak pernah menaruh dendam…

Baru-baru ini, anak kelima dari Buya Hamka, Irfan Hamka, merilis ulang sebuah buku yang menggambarkan tentang sosok dan pribadi ulama tersebut. Buku berjudul “Ayah” itu menceritakan pengalaman hidup Irfan Hamka bersama sang ayah, dan suka duka perjalanan hidup ayah tercintanya, baik sebagai tokoh agama, politisi, sastrawan, dan kepala rumah tangga. Sebelumnya, putra kedua Buya Hamka, Rusjdi Hamka, juga pernah menulis buku yang mengisahkan tentang sosok sang ayah, yang berjudul “Pribadi dan Martabat Buya Hamka.”

Ada hal menarik yang diceritakan dalam buku “Ayah” tersebut. Terutama tentang bagaimana sosok pribadi Buya Hamka ketika menghadapi orang-orang yang pernah memfitnah, membenci, dan memusuhinya. Sebagai ulama yang teguh pendirian, tentu ada pihak yang tak suka dengan sikapnya. Irfan Hamka menceritakan bagaimana sikap Buya Hamka terhadap tiga orang tokoh yang dulu pernah berseberangan secara ideologi, memusuhi, membenci, bahkan memfitnahnya. Ketiga tokoh tersebut adalah Soekarno (Presiden Pertama RI), Mohammad Yamin (tokoh perumus lambang dan dasar negara), dan Pramoedya Ananta Toer (Budayawan Lekra/Lembaga Kebudayaan Rakyat, organisasi seni dan budaya yang berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia).

Betapapun ketiga tokoh itu membenci dan memusuhi Buya Hamka, namun akhir dari kesudahan hidupnya mereka justru begitu menghormati dan menghargai pribadi dan martabat Buya Hamka.

Soekarno ketika menjabat sebagai Presiden RI dan memaksakan ideologi Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis), menahan Buya Hamka selama dua tahun empat bulan dengan tuduhan yang tidak main-main: terlibat dalam rencana pembunuhan Presiden Soekarno. Pada 28 Agustus 1964, Buya Hamka ditangkap dan dijerat dengan tuduhan melanggar Undang-Undang Anti Subversif Pempres No.11. Hamka ditahan tanpa proses persidangan dan tanpa diberikan hak sedikitpun untuk melakukan pembelaaan. Tak hanya itu, buku-buku karyanya pun bahkan dilarang untuk diedarkan. Hamka dijebloskan ke penjara, diperlakukan bak penjahat yang mengancam negara. Begitu zalimnya sikap Soekarno terhadap ulama tersebut.

Namun apa yang terjadi, setelah bebas dari penjara, dan Buya Hamka sudah mulai beraktivitas kembali, sementara kekuasaan Soekarno sudah terjungkal, peristiwa mengharukan terjadi. Soekarno yang mulai hidup terasing dan sakit-sakitan, di akhir hayatnya kemudian menitipkan pesan kepada orang yang dulu pernah dizaliminya. Pesan tersebut disampaikan kepada Buya Hamka lewat ajudan Presiden Soeharto, Mayjen Soeryo, pada 16 Juni 1970. Isi pesan tersebut berbunyi, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku..”

Hamka terkejut, pesan tersebut ternyata datang seiring dengan kabar kematian Soekarno. Tanpa pikir panjang, ia kemudian melayat ke Wisma Yaso, tempat jenazah Bung Karno disemayamkan. Sesuai wasiat Soekarno, Buya Hamka pun memimpin shalat jenazah tokoh yang pernah menjebloskannya ke penjara itu. Dengan ikhlas ia menunaikan wasiat itu, mereka yang hadir pun terharu. Lalu, apakah Buya Hamka tidak menaruh dendam pada Soekarno. Dengan ketulusan ia mengatakan, “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Al-Qur’an 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu…”

Peristiwa mengharukan tentang kebesaran jiwa Buya Hamka dalam memaafkan orang-orang yang pernah membencinya adalah terkait dengan kematian Mohammad Yamin, salah seorang founding father negeri ini, tokoh kebangsaan yang juga termasuk perumus dasar dan lambang negara. Meski berasal dari Sumatera Barat, namun Yamin adalah produk pendidikan sekular. Ia aktif di Jong Sumatranen Bond (Ikatan Pemuda Sumatra) yang bercorak kesukuaan dan sekular. Ia juga menjadi anggota Gerakan Theosofi, sebuah organisasi kebatinan yang juga mengedepankan sekularisme dan paham kebangsaan.

Mohammad Yamin begitu membenci Buya Hamka karena perbedaan ideologi. Ia aktif di Partai Nasionalis Indonesia (PNI), sedangkan Buya Hamka aktif di Partai Masyumi. PNI menginginkan Pancasila sebagai dasar negara, sementara Partai Masyumi berpegang teguh pada sikap ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Kebencian Yamin tersulut, ketika dalam Sidang Majelis Konstituante, dengan lantang Buya Hamka berpidato dan mengatakan, “Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!”

Pidato Buya Hamka yang tegas tersebut kemudian menyulut kebencian Mohammad Yamin. Ia menyuarakan kebenciannya kepada Hamka dalam berbagai kesempatan, baik ketika dalam ruang Sidang Konstituante, ataupun dalam berbagai acara dan seminar. “Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian kepada saya, hati nuraninya pun ikut membeci saya,” begitu kata Buya Hamka.

Tahun 1962, Mohammad Yamin jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat. Buya Hamka memantau perkembangannya lewat radio dan media massa cetak. Hingga tiba pada suatu hari, Chaerul Saleh, menteri di kabinet Soeharto menelponnya dan ingin menyampaikan kabar mengenai kesehatan Mohammad Yamin. Chaerul Saleh kemudian menagatakan kepada Hamka, “Buya, saya membawa pesan dari Pak Yamin. Beliau sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja menemui Buya untuk menyampaikan pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir beliau,” ujarnya.

Hamka yang tertegun kemudian bertanya, “Apa pesannya?” Sang menteri itu kemudian mengatakan,”Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya. Saat ini, pak Yamin dalam keadaan sekarat,”terangnya. Selain itu, kata sang menteri, “Beliau mengharapkan sekali, Buya bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya.” Kepada Buya Hamka, Menteri Chaerul Saleh itu juga mengatakan, Yamin khawatir, masyarakat Talawi, Sumatera Barat, tempatnya berasal, tidak berkenan menerima jenazahnya.

Mendengar penuturan Chaerul Saleh, saat itu juga Buya Hamka kemudian minta diantar ke RSPAD, tempat Yamin terbaring sakit. Melihat kedatangan Hamka, Yamin yang tergolek lemah kemudian melamabaikan tangan. Hamka mendekatinya, kemudian menjabat hangat tangannya. Yamin memegang erat tokoh yang dulu pernah dimusuhinya itu. Sementara Hamka terus membisikan ke telinga Yamin surat Al-Fatihah dan kalimat tauhid, “Laa ilaaha illallah.” Dengan suara lirih, Yamin mengikuti. Namun tak berapa lama, tangannya terasa dingin, kemudian terlepas dari genggaman Buya Hamka.

Mohammad Yamin menghembuskan nafas terakhirnya disamping sosok yang dulu menjadi seterunya. Di akhir hayat, tangan keduanya berpegangan erat, seolah ingin menghapuskan segala sengketa yang pernah ada. Orang yang hadir ketika itu mungkin terlibat dalam keharuan yang sangat. Memenuhi wasiat Yamin, Hamka pun kemudian turut mengantar jenazah salah seorang tokoh nasional itu sampai ke pembaringan terakhirnya.

Cerita terakhir adalah tentang Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer. Keduanya berseberangan secara ideologi. Pram, sapaan akrab sastrawan itu, menyuarakan aspirasi kaum kiri dan aktif di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang dekat dengan PKI. Lewat rubrik Lentera di Surat Kabar Bintang Timoer, Pram dan kawan-kawannya tak henti-hentinya menyerang Hamka. Karya-karya novel Hamka dituding sebagai plagiat, pribadinya diserang sedemikian rupa. Fitnah dan penghinaan itu tak lain adalah karena Buya Hamka adalah seorang sastrawan yang anti Komunis, tokoh Muhammadiyah dan Masyumi.

Namun takdir perseteruan itu menemukan jalan ceritanya yang sungguh mengharukan. Suatu ketika, Astuti, putri Pramoedya mengutarakan keinginannya untuk menikah. Ia sudah menentukan calon pendamping bernama Daniel Setiawan. Pram tentu bersenang hati atas keinginan anaknya tersebut. Namun ada satu ganjalan di hatinya, sang calon menantu yang berasal dari peranakan etnis Tionghoa, ternyata berlainan keyakinan dengan putrinya. “Saya tidak rela anak saya kawin dengan orang yang secara kultur dan agama berbeda,” demikian ujar Pram, sebagaimana disampaikannya kepada Dr. Hoedaifah Koeddah, dokter yang mengobatinya dan dekat dengan keluarganya.

Singkat cerita, Pram kemudian meminta putri dan calon menantunya itu untuk datang menemui Buya Hamka, sosok ulama yang menjadi seterunya. Ia meminta calon menantunya itu untuk belajar Islam kepada Hamka. “Saya lebih mantap mengirimkan calon menantuku untuk diislamkan dan belajar agama pada Hamka, meski kami berbeda paham politik,” demikian Pram menjelaskan.

Bersama Astuti, sang calon menantu Pram itu kemudian mendatangi kediaman Buya Hamka. Ia menceritakan maksud kedatangan, agar Buya bersedia mengajarkan kekasihnya itu ajaran-ajaran Islam. Setelah itu, ia memperkenalkan diri sebagai anak dari Pramoedya Ananta Toer. Buya Hamka tertegun sejenak, raut wajahnya seperti ingin meneteskan air mata. Ia kemudian dengan ikhlas membimbing sejoli itu untuk belajar Islam. Tak lupa pula, ia menitipkan salam untuk ayah sang putri itu. Suasana begitu haru.

Astuti, putri Pramoedya itu tak menyangka, sosok yang dulu begitu dibenci oleh ayahnya, ternyata adalah lelaki yang bersahaja dan berlapang dada. Ia sungguh terharu, dan berterimakasih bisa diterima untuk menimba ilmu agama. Mereka kemudian larut dalam kehangatan dan melupakan segala dendam.

Begitulah sosok Buya Hamka. Ulama yang tegas dan bersahaja. Lelaki yang tak pernah memelihara dendam dalam hatinya, meski musuh yang begitu membencinya sudah tak berdaya. Ia berjiwa besar, berlapang dada, dan menganggap segala kebencian bisa sirna dengan saling memaafkan dan menebarkan cinta. Keteladanannya kini, tetap bersinar seperti mutiara…

Penulis adalah editor Pustaka Al-Kautsar dan dosen STID Mohammad Natsir

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Oleh: Artawijaya

HAKIKAT PUISI,PENGERTIAN PUISI,STRUKTUR PUISI

RACHMAT DJOKO PRADOPO
DALAM PENGKAJIAN PUISI

1.Hakikat Puisi

Rachmat Djoko Pradopo membagi ke dalam tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk mengerti apa itu hakikat puisi. Pertama sifat seni atau fungsi seni, kedua kepadatan, dan ketiga ekspresi tidak langsung.

Fungsi Estetik
Puisi adalah karya seni sastra. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra. Rene Wellek dan Warren mengemukakan bahwa paling baik kita memandang kesusastraan sebagai karya yang didalamnya fungsi estetiknya dominan, yaitu fungsi seninya berkuasa. Tanpa fungsi seni itu karya kebahasaan tidak dapat disebut karya (seni) sastra, sementara itu kita dapat mengenal adanya unsur–unsur estetik (keindahan) misalnya gaya bahasa dan komposisi puisi sebagai karya sastra, maka fungsi estetiknya dominan dan didalamya ada unsur–unsur estetiknya. Unsur–unsur keindahan ini merupakan unsur–unsur kepuitisannya.

Kepadatan
Membuat sajak itu merupakan aktifitas pemadatan. Dalam puisi tidak semua peristiwa itu diceritakan, yang dikemukakan dalam puisi itu hanyalah inti masalah, peristiwa, atau inti cerita, yang dikemukakan dal. Untuk pemadatan ini, kadang–kadang kata–kata yang diambil inti dasarnya. Imbuhan, awalan, dan akhiran sering dihilangkan.

Ekspresi yang tidak Langsung
Kiasan merupakan salah satu ekspresi atau pengucapan tidak langsung. Apakah ekspresi tidak langsung itu merupakan hakikat puisi? Kita tinjau hal ini sebagai penjelasan berikut.

Dikemukakan oleh Rifatere bahwa sepanjang waktu, dari waktu ke waktu puisi itu selalu berubah. Perubahan itu disebabkan oleh evolusi selera dan perubahan konsep estetik akan tetapi, satu hal yang tidak berubah, yaitu puisi itu mengucapkan sesuatu itu secara tidak langsung. Ucapan tidak langsung itu ialah menyatakan sesuatu hal dengan arti yang lain.

Ketaklangsungan ekspresi ini menurut Riffatere disebabkan tiga hal, yaitu (1) penggantian arti (displacing of meaning), (2) Penyimpangan atau pemencongan arti (Distorting Of Meaning), dan penciptaan arti (Creating Of Meaning).

2. Puisi dan pengertiannya
Meskipun sampai sekarang orang tidak dapat memberikan definisi setepatnya apakah puisi itu, namun untuk memahaminya perlu diketahui ancar-ancar sekitar pengertian puisi. Secara intuitif orang dapat mengerti apakah puisi berdasarkan konvensi wujud puisi, namun sepanjang sejarahnya wujud puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya (Riffaterre, 19978:1).
Saat ini jika hanya melihat bentuk visualnya antara puisi dan prosa tidak dapat dibedakan karena sama-sama bentuk bebas. Maka yang menjadi ciri sastra yang utama adalah niat pembaca, ini mengingat bahwa pembacaan yang memberi makna (Teeuw, 1983:6; Culler, 1977:138).
Biasanya puisi didefinisikan sebagai karangan yang terikat, sedangkan prosa ialah bentuk karangan bebas. Wirjosoedarmo misalnya mengemukakan bahwa puisi itu karangan yang terikat oleh :
1) Banyak baris dalam tiap bait
2) Banyak kata dalam tiap baris
3) Banyak suku kata dalam tiap baris
4) Rima, dan
5) Irama

Ada pengertian lain menurut beberapa ahli, bahwa puisi adalah :
-Pendramaan pengalaman yang menafsirkan bahasa bermetrum. Tapi, apabila dikaitkan dengan hal definisi di atas maka definisi ini tidak cocok untuk puisi Indonesia, karena puisi Indonesia tidak bermetrum. Bisa saja penafsiran ini cocok apabila diartikan irama Altenbernd (1970:2).
-Pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya di susun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti musik (Carlyle).
-Pernyataan perasaan yang imajinatif (Wordworth).
-Lebih dari pernyataan perasaan yang bercampur-baur (Auden).
-Pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional dan berirama (Dunton).
-Rekaman detik-detik paling indah dalam hidup (Shelley).

Jadi, teranglah dari beberapa kutipan di atas ada perbedaan-perbedaan pikiran mengenai pengertian puisi dan sudah tidak cocok lagi dengan wujud puisi zaman sekarang, atau cocok namun hanya untuk beberapa jenis puisi saja.
Perbedaan pokok antara puisi dan prosa :
1. Kesatuan-kesatuan korespondensi prosa yang pokok ialah kesatuan sintaksis; kesatuan korespondensi puisi resminya – bukan kesatuan sintaksis – kesatuan akustis.
2. Di dalam puisi korespondensi dari corak tertentu, yang terdiri dari kesatuan-kesatuan tertentu pula, meliputi seluruh puisi dari semula sampai akhir, yang
disebut dengan baris sajak yang di dalamnya ada periodisitas. (Slametmuljana, 1956:112 yang dikutip dari buku A.W. de Groot “Algemene Versleer”).
Segala ulangan susunan baris sajak yang nampak di baris lain dengan tujuan menambah kebagusan sajak, itulah yang dimaksud dengan korespondensi (Slametmuljana,1956:113). Kumpulan jumlah periodus itu merupakan baris sajak. Periodus adalah pembentuk baris sajak menurut sistem, sedangkan periodisitas adalah sistem susunan bagian baris sajak (Slametmuljana,1956:112,113).
Dalam poetika, puisi sama dengan karya sastra, baik prosa maupun puisi (cf. Wellek, 1968:142-150). Puisi dan prosa hanya dapat dibedakan berdasarkan kadar kepadatannya. Berdasarkan hal itu, bila padat karya itu disebut puisi, bila tidak padat disebut prosa. Puisi adalah ekspresi kreatif (yang mencipta), hasil aktivitas memadatkan. Sedang prosa itu ekspresi konstruktif. Pada umumnya prosa bersifat bercerita (epis atau naratif) dan menguraikan. Sedangkan puisi bersifat pencurahan jiwa yang padat (liris dan ekspresif).
3. Puisi itu Karya Seni

Puisi sebagai karya seni yang mengandung nilai keindahan khusus yang disebut puitis (khususnya dalam karya sastra). Kepuitisan itu dapat dicapai dengan bermacam-macam cara, misalnya dengan bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi: persajakan, asonansi, aliterasi, kiasan bunyi, lambang rasa, dan dan orkestrasi; dengan pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, sasana retorika, unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa, dan sebagainya. Antara unsur pernyataan (ekspresi), sarana kepuitisan, yang satu dengan yang lainnya saling membantu, saling memperkuat dengan kesejajarannya ataupun pertentangannya, semua itu untuk mendapatkan kepuitisan seefektif mungkin,seintensif

HERMAN.J.WALUYO
DALAM TEORI DAN APRESIASI PUISI

A. Puisi
Puisi adalah luapan/ ungkapan perasaan yang dituangkan ke dalam karya sastra imajinatif bersifat konotatif karena banyak menggunakan makna kias atau majas
Macam-macam puisi: Mantra, pantun dan syair, puisi jawa, puisi baru, puisi angkatan 45, puisi kontemporer (bentuk fisik dalam kedudukan yang terpenting)
B. Aliran Puisi
– Aliran Romantik: menggambarkan kenyataan dengan penuh keindahan tanpa cela, apabila dia senang dia akan sangat senang begitupun sebaliknya.
– Aliran Realisme: menggambarkan segala sesuatu secara realistis dan apa adanya.
– Aliran Realisme Sosial: menggambarkan segala sesuatu yang terjadi pada masyarakat.
– Aliran Ekspresionisme: menggambarkan kenyataan secara objektif namun secara subyektif.
– Aliran Impresionisme: mengungkapkan isi hati penyair atas kenyataan hidup.
– Aliran Imajis: mengungkapkan kenyataan harus dilukiskan dalam imaji visual yang jernih dan jelas.

C. Struktur Puisi
– Diksi
– Pengimajian
– Kata konkret
– Majas
– Verifikasi
– Tata wajah

D. Struktur batin Puisi
a. Kode Hermeneutik
Kode hermeneutik adalah makna yang hendak disampaikan tersembunyi menimbulkan tanda tanya bagi pembaca.
b. Kode Proairetik
Kode proairetik adalah perbuatan, gerak atau alur pikiran penyair merupakan rentetan yang membentuk garis linear.
c. Kode Semantik
Kode semantic adalah menafsirkan puisi yang berbahasa konotatif
d. Kode Simbolik
Kode Simbolik adalah mengarah pada kode bahasa sastra yang mengungkapkan atau melambangkan suatu hal dengan yang lain.

Hakikat puisi
E. Macam-macam Puisi
a. Puisi Naratif, Lirik, dan Deskriptif
Puisi Naratif: menceritakan penjelasan penyair. Contohnya Epik, Romansa, Balada, dan Syair (cerita)
Puisi Lirik: penyair mengungkapkan aku lirik atau gagasan pribadi
Puisi Deskriptif: menggambarkan keadaan atau peristiwa yang dialami penyair.
b. Puisi Kamar dan Auditorium
Puisi Kamar adalah puisi yang cocok dibaca sendirian atau dengan satu atau dua pendengar di dalam kamar.
Puisi Auditorium adalah puisi yang cocok dibaca di ruangan khusus dan disaksikan banyak penonton.
c. Puisi Fisikal, Platonik dan Metafisik
Puisi Fisikal yaitu puisi yang bersifat realistis dan apa adanya.
Puisi Platonik yaitu puisi yang sepenuhnya berisi hal-hal yang bersifat spiritual.
Puisi Metafisik yaitu puisi yang bersifat filosofis mengajak pembaca merenungkan kehidupan dan merenungkan Tuhan.
d. Puisi Subyektif dan Puisi Obyektif
Puisi Subyektif adalah puisi personal yang mengungkapkan gagasan, pikiran, perasaan dan suasana dalam diri penyair sendiri.
Puisi Obyektif adalah puisi yang mengungkapkan di luar diri penyair itu sendiri.
e. Puisi Konkret
Puisi ini menggambarkan tanda baca bentuk estetika fisik puisi yang potensial membentuk gambar.
f. Puisi Diafan dan Prismatis
Puisi Diafan yaitu puisi polos dan kurang mengggunakan pengimajian.
Puisi Prismatis yaitu penyair mampu menyelaraskan majas pada puisinya.
g. Puisi Parnasian
Yaitu puisi yang muncul karena adanya pertimbangan ilmu atau pengetahuan.
h. Puisi Demonstratif dan Puisi Pamflet
Puisi Demonstratif adalah puisi emosional penyair terhadap suatu masalah sosial.
Puisi Pamflet berisi protes sosial.
i. Stansa
Yaitu puisi yang mempunyai 8 baris.
j. Alegori
Puisi yang mengungkapkan cerita yang isinya dimaksudkan untuk memberikan nasehat tentang budi pekerti agama.

Hasil Diskusi Tanya Jawab Presentasi Sabtu, 3 Oktober 2015

1. Chasbi Mufty (Kelompok 3)
Pertanyaan : Sebutkan contoh puisi subyektif dan objektif?
Jawaban :
Sebelum menyebutkan contoh puisi subyektif dan obyektif.Apakah definisi dari puisi subyektif dan obyektif!
Puisi Subyektif adalah puisi yang mengungkapkan gagasan,pikiran dan suasana dalam diri penyair.
Contoh : Puisi dalam judul “AKU” karya Chairil Anwar
“Kalau sampai waktuku
“Ku mau tak seorang’kan merayu
“Tidak Juga kau
“Tak perlu sedu sedan itu
…………………..
Puisi Obyektif adalah Puisi yang mengungkapakan hal-hal di luar diri penyair itu sendiri.
Contoh : Puisi dalam “MALAM” karya Amir Hamzah
“Daun bergamit berpaling muka
“Mengambang tenang di laut cahaya
“Tundukj mengurai di surai terurai
“Kelapa lampai melambai bidai
…………………………….
……………
2. Joice (Kelompok 3)
Pertanyaan : Sebutkan contoh ungkapan puisi secara langsung dan tidak langsung!
Jawaban :
Ungkapan puisi secara tak langsung :’ Selamat tinggal aku berkaca’
Ungkapan puisi secara langsung : “Ini muka pernah luka”
3. Mailinda Hasan (Kelompok 3)
Pertanyaan : Apa yg dimaksud dengan puisi sebagai hasil ekspresif-kreatif penyair dalam mengolah bahasa?
Jawaban : Puisi sebagai hasil mengolah bahasa yang bersifat memadatkan (kondensasi),itulah sebabnya bentuk puisi umumnya lebih pendek daripada prosa karena puisi tidak bersifat menguraikan (dispersi).

4. Ahmad Muharor (Kelompok 4)
Pertanyaan Bagaimana cara membuat puisi yg maknanya mudah dibaca dan di pahami?Jelaskan!
Jawaban :
Kembali ke fungsi estetik yg terdapat unsur keindahan di dalam puisi tersebut.Membuat puisi harus memperhatikan irama,gaya bahasa,citraan atau imaji dan yang paling penting adalah makna diksi yang terkandung.Sehingga pembaca akan digiring oleh tanda atau kode kunci yang terdapat di dalam puisi.Pembaca akan menebak dan menemukan apa yang ingin disampaikan oleh si pembuat puisi tersebut.Sehingga pembaca akan mendapatkan kesatuan makna yang terkandung dalam puisi tersebut.

5. Sinta (Kelompok 4)
Pertanyan : Kenapa puisi harus memakai struktur dalam kode-kode tertentu?
Jawaban : Karena hakikat puisi itu merupakan ekspresi esensi rasa,Puisi menyimpan makna yang dibingkai oleh kata.Puisi itu mampat dan padat, maka penyair memilih kata dengan kode-kode tertentu sesuai dengan apa yang ingin dimaksud oleh si penyair.

Kesimpulan Presentasi
Hakikat Puisi,Pengertian Puisi,Struktur Pembangun Puisi

Puisi adalah karya seni sastra (Hakikat Puisi Sebagai Karya Seni)
Jadi,puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra.
Puisi adalah esensi rasa (Hakikat Puisi Sebagai Fungsi Kepadatan)
Jadi, puisi itu merupakan ekspresi esensi rasa karena puisi itu mampat dan padat, maka penyair memilih kata dengan akurat.
Puisi adalah kiasan yang merupakan salah satu ekspresi atau pengucapan tidak langsung (Hakikat Puisi Sebagai Ekspresi yang tidak Langsung).
Puisi adalah Pendramaan pengalaman yang menafsirkan bahasa bermetrum. Tapi, apabila dikaitkan dengan hal definisi di atas maka definisi ini tidak cocok untuk puisi Indonesia, karena puisi Indonesia tidak bermetrum. Bisa saja penafsiran ini cocok aabila diartikan irama Altenbernd (1970:2).
Puisi adalah Pemikiran yang bersifat musikal, kata-katanya di susun sedemikian rupa, sehingga menonjolkan rangkaian bunyi yang merdu seperti musik (Carlyle).
Puisi adalah Pernyataan perasaan yang imajinatif (Wordworth).
Puisi adalah Lebih dari pernyataan perasaan yang bercampur-baur (Auden).
Puisi adalah Pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional dan berirama (Dunton).
Puisi adalah Rekaman detik-detik paling indah dalam hidup (Shelley).
Puisi adalah luapan/ ungkapan perasaan yang dituangkan ke dalam karya sastra imajinatif bersifat konotatif karena banyak menggunakan makna kias atau majas
Dalam jenis aliran puisi dapat digolongkan menjadi sebagai berikut : Aliran Romantik, Aliran Realisme, Aliran Realisme Sosial, Aliran Ekspresionisme, Aliran Impresionisme, Aliran Imajis,
Puisi mempunyai struktur sebagai berikut:Diksi,Pengimajian,Kata konkret,Majas verifikasi,Tata wajah.
Dalam puisi terdapat struktur batin yang membangunnya.
Struktur tersebut terkandung dalam puisi,Melekat dan menjadi ruh dalam puisi,
Struktur tersebut adalah : Kode Hermeneutik, Kode Proairetik, Kode Semantik, Kode Simbolik
Puisi terbagi atas beberapa kategori menurut isi,bentuk maupun teknik penyampaiannya.
Macam-macam puisi tersebut adalah Puisi Naratif, Puisi Kamar dan Auditorium, Puisi Fisikal, Platonik dan Metafisik, Puisi Subyektif dan Puisi Obyektif, Puisi Konkret, Puisi Diafan dan Prismatis, Puisi Parnasian, Puisi Demonstratif dan Puisi Pamflet, Stansa, Alegori.
Hakikat puisi sebagai karya sastra adalah hakikat yang sangat mendalam,
Puisi tidak hanya sebagai ungkapan jiwa yang terpendam dalam diri penyair yang dituangkan dalam bentuk rangkaian kata-kata.Tetapi puisi sebagai rangkaian makna yang padu yang membentuk suatu kesatuan.Menelanjangi sebuah puisi seperti menebak teka-teki,Pembaca akan digiring untuk mengurai dan memaknai setiap diksi untuk mendapatkan keinginan si pembuat puisi.